Google Translate

Sunday, February 5, 2012

MENINGKATKAN MUTU KINERJA PERUSAHAAN dalam PENCAPAIAN PRODUKSI dan PRODUKTIVITAS


A. Definisi        
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata produksi dan produktivitas.
Berikut beberapa pengertiannya:
                Produksi  berasal dari kata latin “Producere”, berarti membuat sesuatu yang baru baik yang bersifat tangible (produk) maupun intangible (jasa).
"Produksi : Suatu kegiatan memproses input (faktor produksi) menjadi suatu output.”
“Produksi adalah pengubahan bahan-bahan dari sumber-sumber menjadi hasil yang yang diinginkan oleh konsumen. Hasil tersebut dapat berupa barang ataupun jasa.”
Produktivitas berasal dari kata bahasa inggris Productivity yang berarti kemampuan menghasilkan.
“Produktivitas adalah sebuah konsep yang menggambarkan hubungan antara hasil (jumlah barang yang diproduksi) dengan sumber (jumlah tenaga kerja, modal, tanah, energy, dan sebagainya) yang dipakai untuk menghasilkan hasil tersebut”
Produktivitas adalah rasio output dan input suatu proses produksi dalam periode tertentu. Input terdiri dari  manajemen,  tenaga kerja, biaya produksi, dan peralatan serta  waktu. Output meliputi produksi, produk penjualan, pendapatan, pangsa pasar, dan kerusakan produk. Dalam perspektif normatif, pengertian produktivitas adalah kalau hari ini karyawan lebih baik dari kemarin dan hari esok lebih baik dari sekarang.”

Dalam proses produksi adanya produk yang menjadi sasaran konsumen. Produk sendiri adalah barang atau jasa yang dapat diperjual belikan. Berasal dari bahasa inggris, produc yang artinya hasil.
Produktivitas juga erat kaitannya dengan mutu, maka dari itu.
Beberapa kriteria untuk menilai produktivitas yang berkaitan dengan  mutu meliputi:
 
 Sisi Input:
Tingkat pendidikan dan pengetahuan yang tinggi
Sikap tentang mutu yang tinggi
Ketrampilan kerja  tinggi
Pengalaman kerja luas
Kesehatan fisik prima
Sisi Proses:
Jumlah kesalahan yang rendah : mendekati nol
Jumlah karyawan yang keluar semakin rendah
Waktu kerja lembur bertambah
Ketidakhadiran karyawan semakin kecil
Kerusakan atau kesalahan rendah
Derajad respon tinggi
Biaya produksi perunit yang rendah
Kecermatan semakin tinggi
Kelengkapan proyek semakin tinggi
Sisi Output:
Kepuasan konsumen yang semakin tinggi
Peningkatan penjualan barang
Penerimaan dari investasi semakin meningkat
Output perkaryawan semakin tinggi
Nilai rupiah penjualan semakin meningkat
Keuntungan semakin besar
Sisi Outcome:
Pangsa pasar yang semakin besar
Penghasilan dari setiap pangsa semakin besar
Keluhan pelanggan pelanggan semakin kecil
Semakin besarnya peluang karir karyawan
Semakin besarnya peluang perusahaan untuk berkembang.
 
B. Teori Produksi
1.      Teori Produksi
Teori produksi yang sederhana menggambarkan hubungan antara tingkat output yang dihasilkan dengan jumlah tenaga kerja (labor) yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut.
Fungsi produksi :  suatu persamaan yang menunjukkan hubungan ketergantungan (fungsional) antara tingkat input yang digunakan dalam proses produksi dengan tingkat output yang dihasilkan.
Fungsi produksi secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut :


Dalam hal ini, perlu diketahui bahwa tekonologi tidak dianggap sebagai faktor produksi.
 Ada 2 jenis produksi:
=>Produksi dengan satu input variabel
Teori produksi yang sederhan menggambarkan hubungan antara tingkat poutput yang dihasilkan dengan jumlah tenaga kerja (labor) yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut.

Dalam analisis produksi dengan satu input variabel diasumsikan bahwa semua faktor produksi selain tenaga kerja (L) dianggap tetap. Sehingga funsi produksi dengan satu input variabel :

 Q = f (L). fungsi produksi dengan satu input variabel tunduk pada “Law of Diminishing Return”

yang menyatakan :
bila satu macam input (L) penggunannya terus ditambah sebanyak satu unit., sedangkan input-input yang lain konstan, pada mulanya produksi total akan semakin banyak pertambahannya. Tetapi, sesudah mencapai suatu tingkat tertentu produksi tambahan tersebut semakin menurun dan akhirnya mencapai nilai negatif. Keadaan ini akan menyebabkan produksi total semakin lambat pertambahannya, akhirnya ia mencapai tingkat maksimum dan kemudian menurun.
=>Produksi dengan dua input variabel
Dua faktor produksi yang dianggap variabel atau dapat diubah jumlahnya adalah tenaga kerja (L) dan modal (K). dalam teori produksi diasumsikan juga, h-bahwa antara tenaga kerja dan modal dapat dipertukarkan penggunannya satu sama lain. Modal dapat menggantikan tenaga kerja oleh tenaga kerja dapat menggantikan modal.
Jika upah tenaga kerja dan pembayaran per unit terhadap penggunaan modal diketahui, maka bagaimana caranya perusahaan meminimumkan biaya dalam usahanya unttuk menghasilkan output pada suatu tingkat tertentu dapat diketahui. Disamping itu, dengan sejumlah biaya tertentu bagiamana caranya perusahaan memaksimalkan output juga dilaksankan.

    C. Hal-hal yang mempengaruhi produksi dan produktivitas.
Dalam suatu proses produksi dan produktivitas perusahaan, adakalanya mengalami kendala dan hambatan yang dialami. Hal in karena proses dalam kinerja suatu perusahaan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor tertentu. Faktor-faktor tersebut dapat memberi pengaruh yang cukup besar.

Dalam hal ini berikut akan dibahas  beberapa faktor yang mempengaruhinya, kendala dan hambatan, cara menanganinya dan cara meningkatkan produksi dan produktivitas suatu perusahaan.

 
Faktor –faktor utama yang mempengaruhi  produksi dan produktivitas
1.   Sistem kerja
Dalam peningkatan produksi dan produktivitas perusahaan, peran manajemen sangat diperlukan, hal ini bagaikan roh dari perusahaan, tanpanya perusahaan tak dapat berjalan. Di bidang ini, manajemen memiliki lingkup ruang tersendiri, yaitu manajemen produksi.
Dalam melakukan kegiatan produksi ada berbagai faktor yang harus dikelola yang sering disebut sebagai faktor – faktor produksi yaitu :
ü      Material atau bahan
ü      Mesin atau peralatan
ü      Manusia atau karyawan
ü      Modal atau uang
ü      Manajemen yang akan memfungsionalisasikan keempat faktor yang lain.
Dengan demikian manajemen produksi berkaitan dengan pengelolaan faktor – faktor produksi sedemikian rupa sehingga keluaran (output) yang dihasilkan sesuai dengan permintaan konsumen baik kualitas, harga maupun waktu penyampaiannya. Sekilas telah disebutkan dari uraian di atas bahwa manajemen produksi (operasi) bertanggung jawab atas dihasilkannya keluaran (output) baik yang berupa produk maupun jasa yang sesuai dengan permintaan dan kebutuhan konsumen dengan kualitas yang baik dan harga yang terjangkau serta disampaikan tepat pada waktunya.
Bertitik tolak dari tanggung jawab ini maka ukuran kinerja suatu sistem operasi dapat diukur dari :
a.       Ongkos Produksi
Bila dikaitkan dengan tujuan suatu sistem usaha, maka ukuran kinerja sering diukur dengan keuntungan yang dapat dicapai, namun seperti diuraikan diatas bahwa sistem produksi hanyalah salah satu dari sub sistem yang ada dalam suatu sistem usaha, sehingga untuk mengukur seberapa besar kontribusi sistem operasi di dalam pencapaian keuntungan bukanlah hal yang mudah. Oleh sebab itu untuk mengukur kinerja sistem produksi diambil ukuran waktu operasi tertentu (biasanya dalam waktu satu tahun)
Ongkos produksi ini meliputi semua biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk / jasa ketangan konsumen. Dengan ongkos produksi yang murah diharapkan bahwa produk / jasa dapat dipasarkan dengan harga yang dapat dijangkau oleh konsumen
b.      Kualitas Produk / Jasa.
Kenyataan menunjukan bahwa konsumen tidak hanya memilih produk/jasa yang harganya murah namun juga produk/jasa yang berkualitas, oleh sebab itu baik buruknya suatu sistem produksi juga diukur dari kualitas produk/jasa yang dihasilkan. Ukuran kualitas produk yang dimaksudkan disini tentunya yang disesuaikan dengan selera konsumen bukan ukuran kualitas secara teknologi semata
c.        Tingkat Pelayanan
Bagi konsumen untuk menilai baik buruknya suatu sistem produksi / operasi lebih dinilai dari pelayanan yang dapat diberikan oleh system produksi kepada konsumen itu sendiri.


2.  Proses  dan pengolahan sistem kerja
  • Produk
Manajer produksi bertanggung jawab dalam membuat keputusan untuk mengubah sumber menjadi hasil yang dapat dijual, keputusan tersebut antara lain :
  • Keputusan yang berhubungan dengan disain dari system produksi manufaktur
  • Keputusan yang berhubungan dengan operasian pengendalian system dalam jangka panjang/jangka pendek.
         Sistem Produksi Manufaktur
Keputusan jangka panjang yang menentukan disain system produk adalah tentang:
a. Disain produksi dari barang yang diproses (pola, corak, kualitas)
b. Pemilihan/penentuan peralatan dan prosesnya
c. Disain tugas
d. Lokasi dari fasilitas produksi
e. Layout dari fasilitas produksi
Keputusan yang berkaitan dengan proses pengolahan dapat digolongkan menurut 3 macam cara :
           1. Sifat dari proses tersebut
Berdasarkan sifatnya, proses produksi dapat dibedakan menjdai 4 macam, yaitu :
a.       Proses ekstraktif, yaitu proses produksi yang mengambil bahan-bahan langsung dari alam.
  1. Proses analitik, yaitu proses pemisahan dari suatu bhan menjadi beberapa barang yang hampi menyerupai bentuk/jenis aslinya.
  2. Proses fabrikasi (proses pengubahan), suatu proses yang mengubah suatu bahan menjadi beberapa bentuk.
  3. Proses sintetik, metode pengombinasian beberapa bahan ke dalam suatu bentuk produk.
          2. Jangka Waktu Produksi
Dalam hal ini, proses produksi digolongkan menjadi 2 macam :
a. Proses terus-menerus (continous process)
b. Proses terputus-putus (intermittent process)
           3. Sifat produk
Dalam hal ini, proses produksi dapat dibagi menjadi 2 macam :
a. Produksi standard
Menghasilkan barang untuk persediaan disamping barang yang dikirim kepada pembeli dan penyalur. Produksi ini memerlukan modal yang besar antara lain untuk : memelihara persediaan; menyediakan fasilitas penyimpanan yang memadai; menanggung resiko turunnya harga pasar, kebakaran, dsb.
b. Produksi pesanan
Digunakan apabila pembeli menghendaki spesifikasi dari produk yang diinginkan, sedangkan kemempuan produksinya terbatas.
KEGIATAN PRODUKSI
  • Gambaran Sekilas
Keputusan yang berkaitan dengan kegiatan dan pengendalian system produks memnentuka peningkatan efisiensi operasinya, perncanaan, dan pengawasan kuantitas serta kualitas produknya, dan kemempuan sistem tersebut.
  • Perencanaan Produksi
Perencanaan produksi berkaitan dengan masalah pokok yang meliputi : jenis dan jumlah barang yang akan dibuat serta cara pembuatannya. Erncanaan jenis barang terdiri atas 4 tahap, yaitu :
  1. Penentuan disain awal yang berupa disain spesifikasi dan syarat-syarat yang harus dipenuhi
  2. Penentuan disain barang yang tepat
  3. Penentuan cara pembuatan yang berupa penentuan urutan produksi, tempat kerja, dan peralatan yang dipakai
  4. Usaha memodifikasi tahap ketiga yang disesuaikan dengan layout, tuntutan kualitas, dan peralatan yang tersedia.
  • Organisasi Produksi
Besarnya organisasi produksi yang diperlukan tergantung pada besarnya perusahaan dan kompleknya proses pengolahan yang diinginkan.
  • Pengendalian Proses
Merupakan serangkaian prosedur yang yang bertujuan mengkoordinir semua elemen proses produktif ke dalam suatu aliran dimana aliran tersebut akan memberikan hasil dengan gangguan minimum ongkos terendah, dan kemungkinan waktu tercepat.
Pembahasan masalah penegndalian proses dibatasi pada :
a)      Jenis-jenis Pengendalian Produksi
  • Order control digunakan perusahaan manufaktur yang beroperasi hanya pada waktu menerima pesanan dari pembelinya.
  • Flow control digunakan dalam pabrik yang berproduksi untuk persediaan dan dimaksudkan untuk mempercepat pengirimana barang jadi dari tempat persediaan begitu pesanan pembeli diterima.
b)      Tahap-tahap dalam Pengendalian Produksi
1.       Perencanaan
  1. Rounting, yaitu suatu usaha untuk menentuka urutan dari proses dan alat-alat yang digunakan dalam proses produksi.
  2. Scheduling, yaitu usaha menentukan kapan produksi akan dimulai dan selesai untuk diserahkan.
  3. Dispatching, yaitu surat perintah yang berisi wewenang untuk melakukan kegiatan produksi.
Analisis Jaringan Kerja : Metode Jalur Kritis dan PERT
Analisis Jaringan Kerja (Network Analysis) merupakan teknik yang berkaitana dengan masalah penetapan urutan pekerjaan yang diarahkan untuk meminimumkan waktu penyelesaian suatu pekerjaan, agar dicapai biaya yang rendah.
1. Jaringan Kerja (Network)
Merupakan rangkaian aktivitas yang bersambung dalam menghasilakan barang dan atau jasa,yang terarah pada usaha pencapaian tujuan perusahaan.
Aktivitas (activity) : kegiatan untuk menyelesaikan suatau bagian dari pekerjaan yang mebutuhkan waktu tertentu
Kejadian (event) : saat mulai atau berakhirnya aktivitas.
2. Jalur Krisis (Critical Path)
Merupakan jalur terpanjang dalam menyelesaikan satu rangkaian pekerjaan sampai selesai.
Aktivitas Semu (Dummy)
Merupakan suatu aktivitas dalam jaringan kerja yang membutuhkan nol satuan waktu.
Keterbatasan Metode Jalur Kritis (MJK)
Faktor-faktor yang membatasi penerapan metode jalur kritis :
  1. MJK mendasar pada asumsi bahwa penyelesaian aktivitas dapat diketahui dengan tepat pada tiap waktu.
  2. MJK tidak memasukkan gagasan analisis statistic dalam menentukan perkiraan waktu.
  3. MJK merupakan model perencanaan static dan bukan alat kontrol dinamik.
Program Evaluation dan Review Technique (PERT)
Dalam PERT digunakan 3 perkiraan waktu :
  • Waktu yang paling otimis (Wo), kemungkinan waktu penyelesaian yang paling pendek, jika semua pekerjaan berjalan dengan lancar.
  • Waktu yang paling pesimis (Wp), kemungkinan waktu penyelesaian yang paling panjang, dengan memperhitungkan kemungkinan penundaan.
  • Waktu normal (Wn), kemungkinan waktu penyelesaian sebagaimana biasa terjadi.
Ketiga jenis waktu tersebut, dapat dihitung waktu yang diharapkan (Wh) :
Wh = (Wo + 4Wn + Wp) / 6

  • Pengendalian Persediaan Bahan Baku
Persediaan dalam jumlah yang besar mengandung banyak resiko seperti :
1.       Resiko hilang & rusak
  1. Biaya pemeliharaandan pengawasan yang tinggi
  2. Resiko using
  3. Uang yang tertanam terlalu besar
Jumlah pemesanan yang ekonomis dipengaruhi 4 faktor yaitu :
1.       Jumlah kebutuhan bahan baku per tahun
  1. Biaya pemesanan
  2. Biaya penyimpanan
  3. Harga bahan baku
Jumlah pemesanan yang paling ekonomis  :
JPPE = akar (2 x K x Bp) / 6
Dimana :
JPPE    = Jumlah pemesana paling ekonomis
K         = Jumlah kebutuhan bahan baku per taun
Bp       = Biaya Pemesanan setiap pesan
Bs        = Biaya penyimpanan (%)
H         = Harga bahan baku per unit
  • Pemeliharaan Peralatan
Kerugian perusahaan karena kelalaian pemeliharaan peralatan disebabkan antara lain :
1.            Kerusakan peralatan yang sudah cukup parah
2.            Kerugian akibat berenti sebagian/ keseluruhan kegiatan produksi
3.            Kerugian akibat keterlambatan pengiriman barang kepada konsumen
4.            Perusahaan terpaksa membayar claim karen pengiriman yang tidak tepat
5.            Menimbulkan keengganan pelanggan untuk kembali memesan
Organisasi Pemeliharaan Peralatan
1. Di Desantralisir menurut pusat biaya atau departemen
Keuntungan :
a.       Tenaga mekanik akan mengerti betul penggunaan dan karakteristik alat-alat yang harus dipakai
  1. Mempermudah pimpinan mengarahkan orang-orang untuk mengerjakan pekerjaan yang harus cepat selesai
  2. Kontrol pemeliharaan dapat lebih ditingkatkan
Kerugian :
a.       Fleksibilitas sangat rendah
  1. Terdapatnya duplikasi tenaga kerja
2. Sentralisasi
Keuntungan :
a.       Tidak terdapat duplikasi alat, tenaga kerja, dan persediaan suku cadang
  1. Fleksibilitas tinggi
Kerugian :
a.       Memerlukan tenaga spesialisasi cukup banyak
  1. Memerlukan perencanaan
  2. Sulit menetapkan pembagian tugas dengan baik
  3. Beban pekerjaan bagian pemeliaraan semakin berat
  4. Pengawasan Kualitas dan Inspeksi
Tahap pengawasan kualitas :
a.       Penentuan kebijakan tentang penetapan kualitas sesui dengan tuntutan pasar
  1. Tahap penentuan disain tehnis untuk mencapai target tuntutan pasar
  2. Tahap pembuatan, sebagai perwujudan pelaksanaan tahap 1 dan 2
  3. Tahap penggunaan di lapangan
Pengawasan Kualitas di dalam Produksi
Inspeksi merupakan penyusunan cara-cara penguuran karakteristik kualitas dan membandingkannya dengan standard yang telah ditetapkan.
Bagan Pengawasan
Penyimpangan yang sering terjadi dalam proses industri :
  1. Penyimpangan-penyimpangan yang tidak dapat ditentukan (frekuensi kecil)
  2. Penyimpangan-penyimpangan yang dapat ditentukan
 
1.  Tenaga kerja
        Pemilihan tenaga kerja pada saat pengambilan karyawan baru merupakan penentu dari lancar tidaknya suatu sistem kerja. Keahlian merupaka titik tolak yang jadi acuan dalam hal ini, dimana latar belakang pengetahuaan dan keterampilan adalah hal utama yang dipertaruhkan di bagian ini.
Adapun kriteria tenaga kerja yang memiliki kinerja yang baik adalah :
1.      Pekerja keras
2.      Memiliki latar belakang yang sesuai dengan apa yang digelutinya.
3.      Keterampilan yang dimiliki.
4.      Memiliki semangat kerja tinggi.
5.      Rajin dan pantang menyerah.
6.      Berani bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.
7.      Sehat jasmani dan rohani.
8.      Berpengalaman.
9.      Kualitas pekerja.

2.  Biaya Produksi
Produksi dan produktivitas dipengaruhi oleh biaya produksi. Hal ini berkatian dengan berjalannya suatu proses produksi.
Keputusan tingkat produksi senantiasa berkaitan dengan tingkat produktivitas fakto-faktor produksi yang digunakan. Produktivitas yang tinggi menyebabkan tingkatt produksi yang sama dapat dicapai dengan biaya yang lebih rendah. Dengan kata lain, produktivitas dan biaya mempunyai hubungan terbalik. Jika produktivitas makin tinggi, biaya produksi akan  makin rendah. Beguitu juga sebaliknya.

3.  Lingkungan kerja
Hal ini berpengaruh terhadap dampak sosial yang ada didaklam suatu perusahaan.l ini penting sekali, mengingat lingkungan merupakan faktor penentu kinerja seseorang. Jika tempat kerjanya baik dan nyaman, maka tidak dipungkiri bisa saja produksi dan produktivitas perusahaan meningkat, demikian juga sebaliknya.

FAKTOR-FAKTOR MAKRO DAN MIKRO

Faktor-faktor pada tingkat makro yang dapat memengaruhi terjadinya produksi  yang rendah meliputi:
1.      Resesi, jika terjadi resesi maka perusahaan akan mengurangi jumlah karyawannya. Hal ini berdampak pada penuruan produksi perusahaan.
2.      Berkurangnya / hilangnya bahan baku, merupakan hal yang ekstrem jika ini sampai terjadi, perusahaan akan tersendat dalam memproduksi barang.
3.      Kegagalan product,  adanya pengeluaran yang besar akibat adanya barang yang rusak akibat kecelakaan (kebakaran, bencana alam, dll) atau tidak laku dipasaran.
Faktor-faktor pada tingkat mikro yang dapat memengaruhi terjadinya produksi  yang rendah meliputi:
1.                  Pendekatan sosial, produksi tidak akan dapat berjalan lancar jika pihak staff dan lini sering berbeda pendapat dalam hal penentuan jumlah produksi. Dampak ini akan memberikan pengaruh yang cukup serius jika tidak memiliki titik terangnya.
2.      Sistem kerja, suatu perusahaan yang tingkat produksinya rendah, biasanya diakibatkan karena kurang cakapnya suatu sistem kerja yang dianut dalam perusahaan itu. manajemen yang buruk akan memberikan kinerja yang buruk juga. Kecakapan manajemen dibutuhkan untuk mengontrol dan mengawasi kinerja perusahaan agar produksinya dapat meningkat. Jiak manajemennya buruk, maka perusahaan itu bisa saja merugi atau bahkan bangkrut dalam waktu singkat.

faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya produktivitas yang rendah di tingkat makro :
(1) Kondisi Perekonomian : reit pajak yang rendah; tabungan dan investasi yang meningkat; regulasi yang berlebihan; tingkat Inflasi tinggi; fluktuasi ekonomi; harga energi tinggi; keterbatasan bahan baku; perlindungan berlebihan dan keterbatasan kuota; dan subsidi berlebihan yang menimbulkan inefisiensi.
(2) Kondisi Industri: kurangnya riset dan pengembangan dan regulasi antimonopoli berlebihan.
(3) Regulasi pemerintah: birokrasi panjang; produktivitas pemerintahan rendah; pemborosan pemerintah dan tingkat korupsi tinggi.
(4) Karakteristik Angkatan Kerja : standar pendidikan rendah; reit melek huruf rendah; etos kerja rendah; pergeseran ke sektor jasa; reit kriminal tinggi; pergeseran sistem nilai dan sikap.

Faktor-faktor  mikro yang dapat memengaruhi terjadinya produktivitas yang rendah meliputi:
(1)  Organisasi: pabrik-pabrik tua;  mesin-mesin tua; kekurangan alat dan pabrik; riset dan pengembangan kurang dan kondisi  fisik tempat kerja kurang nyaman.
(2)  Manajemen : kurang perhatian terhadap mutu; kelebihan staf pegawai; spesialisasi pekerja yang berlebihan; kurang perhatian terhadap faktor-faktor manusia; perhatian terhadap isyu legal yang berlebihan; kurangnya perhatian pada persoalan merger; kurangnya perhatian terhadap pelatihan dan pengembangan Gaji eksekutif berlebihan,sementara gaji karyawan tidak memadai; resisten terhadap perubahan; penurunan perhatian terhadap risiko kerja; sikap bermusuhan terhadap serikat pekerja; dan manajemen kepemimpinan otoriter.
(3)  Karyawan: lebih senang dengan waktu santai; resisten terhadap perubahan; tidak bangga pada pekerjaan; kekerasan karena alkohol dan obat-obatan terlarang; pengalaman kerja kurang; etos kerja yang kurang; rendahnya pengetahuan, ketrampilan, kemampuan, sikap dan perilaku; kondisi kesehatan yang kurang; dan kemampuan berkomunikasi yang kurang.
Dalam proses produksi erat kaitannya dengan produktivitas. Maka dari itu produktivitas merupakan hal yang amat penting bagi perusahaan. Namun, adakalanya hambatan- hambatan yang dialami ketika ingin mencapai produktivitas yang baik. Berikut akan dibahas hambatan produktivitas.
Jika hanya ada satu atau dua orang yang kurang produktif mungkin bisa dimaklumi. Tapi jika nyaris semuanya, tentu ada sesuatu yang tidak beres baik dari karyawan itu sendiri atau  pemimpinnya.
Pakar karir
Dr. Donald E. Wetmore mengatakan ada lima hambatan utama bagi produktivitas.
* Seleksi awal yang kurang baik
Seleksi merupakan tahap yang cukup menentukan untuk mendapatkan karyawan yang potensial. Maka perlu diberlakukan seleksi yang cukup ketat untuk mendapatkan kandidat yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Paling tidak, calon karyawan tersebut nantinya bisa mencapai target atau sasaran yang ditetapkan.

*
Training yang kurang memadai
Pelatihan adalah investasi untuk memperkuat sekaligus meningkatkan ketrampilan dan sikap kerja karyawan. Perusahaan seringkali lupa dan terlena pada hasil yang diperoleh, padahal hasil yang diperoleh besok belum tentu sebagus kemarin. Akibatnya produktivitas karyawan pun semakin buruk. Lebih jauh, perusahaan bisa mengalami kerugian.

*
Beban kerja yang berlebihan
Beban kerja yang tinggi tidak menjamin karyawan sukses mencapainya. Hendaknya beban kerja dibuat serasional mungkin. Ingat, orang yang rasional akan mencapai hasil yang rasional dalam waktu yang rasional pula. Beban kerja yang terlalu berat justru menyebabkan rendahnya produktivitas. Mungkin lebih produktif bila Anda meminta karyawan untuk mengerjakan lebih sedikit tugas namun lebih menghasilkan.

*
Ketidaksesuaian antara tujuan perusahaan dan tujuan pribadi
Seperti halnya tiap individu, perusahaan pun memiliki tujuan. Semakin sesuai tujuan perusahaan dan tujuan pribadi maka semakin mudah pula karyawan dalam mencapai tujuan itu. Sebaliknya, ketidaksesuaian tujuan perusahaan dan pribadi menyebabkan konflik batin yang cukup berat. Jangankan mencapai produktivitas, berangkat kerja saja rasanya berat.

*
Kelelahan mental
Banyak karyawan yang merasa lelah dengan rutinitas kerja sehari-hari. Belum lagi jika menghadapi rekan-rekan yang tidak kompak, bos yang arogan, atau gaji yang dirasa kurang. Hal ini seringkali menyebabkan karyawan mengalami kelelahan mental, karena mereka harus menahan konflik batin yang tidak ringan.

Solusi bagi hambatan tersebut:
1. Melakukan penyeleksian yang baik dengan memberikan tes yang bertahap.
2. Memberikan pelatihan dan pengetahuan berupa seminar dan kegiatan lainnya yang mampu meningkatkan kualitas kinerja para karyawan.
3. Pembagian tugas yang seimbang serta memiliki jarak kerja yang baik.
4.  Melakukan pendekatan pada setiap individu di perusahaan agar terjalin hubungan sosial  yang baik sehingga tercipta saling pengertian satu sama lain dan mampu menyatukan tujuan bersama.
5. Mengadakan acara atau kegiatan yang tak berhubungan dengan pekerjaan berupa acara sosial yang mampu memberikan ruang bagi pemimpin dan karyawannya menjalin hubungan yang baik tanpa ada kesenjangan sosial satu sama lain. Misalnya mengadakan kegiatan penghijauan disekitar lingkungan perusahaan atau kegiatan sosial di panti asuhan. Dan semua pihak ikut membantu dengan standart derajat sosial yang sama.
10 cara meningkatkan produktivitas kerja :
  1. Tuliskan rencana kerja anda. Sebaiknya tulis di kertas atau papan yang mudah terlihat. Bukan di alat elektronik seperti handphone. Dan dalam setiap daftar rencana kerja anda, tentukan prioritas kerja anda. Buat prioritas dari yang menurut anda paling penting sampai yang kurang penting.
  2. Tuliskan aktivitas yang harus anda hindari. Selain memiliki daftar pekerjaan yang harus anda lakukan, tuliskan juga aktivitas tidak produktif yang harus anda hindari. Misalkan nonton televisi tanpa kenal waktu. Dan berjanjilah anda tak melakukan aktivitas-aktivitas tersebut sebelum pekerjaan-pekerjaan anda selesai.
  3. Lakukan pemanasan. Sebagian orang kadang memerlukan pemanasan sebelum bekerja. Misalnya dengan minum kopi atau teh terlebih dulu. Bila anda termasuk orang yang memerlukan pemanasan sebelum beraktivitas, lakukan saja. Yang penting, itu bisa membuat anda lebih enjoy dalam bekerja.
  4. Fokus pada apa yang anda kerjakan. Satu pekerjaan, satu waktu! Sulit kalau anda melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan. Sebab fokus anda akan terbagi. Mulai dari tugas prioritas anda. Pusatkan perhatian dan konsentrasi anda untuk mengerjakan pekerjaan tersebut sebaik-baiknya. Jangan berpindah ke pekerjaan lain sebelum selesai. Ingat, fokus!
  5. Tetapkan batas waktu. Ini akan mendorong anda untuk mengerjakan setiap pekerjaan dengan cepat.
  6. Tandai pekerjaan yang selesai. Setiap daftar pekerjaan yang sudah selesai, tandailah. Boleh dengan memberi centang atau mencoretnya. Ini akan memacu anda untuk segera menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan berikutnya.
  7. Ambil istirahat. Tentukan waktu untuk beristirahat. Misalkan setiap dua jam sekali anda mengambil istirahat 15 menit. Ini bisa anda gunakan untuk meregangkan otot atau meminum teh hangat.
  8. Belajar membaca cepat. Tingkatkan terus kecepatan membaca anda.
  9. Mengetik lebih cepat. Maksimalkan kesepuluh jari anda dan hapalkan shortcut khusus yang akan membantu anda mengetik lebih cepat.
  10. Patuhi peraturan anda. Rencana-rencana kerja yang sudah anda buat tadi bukan hanya untuk dipajang saja. Patuhi dan lakukanlah dengan sebaik-baiknya.

Maka dari itu, kinerja yang baik harus bisa menjadi penopan yang kutra bagi perusahaan dalam meningkatkan outputnya melalui cerminan produktivitasnya.  Hal yang paling utama yang harus diperhatikan adalahindividu itu sendiri. Jika memenhui kriteria karyawan yang baik seperti yang telah disebutkab sebelumnya, tak dapat di pungkiri bahwa produktivitas akan menjadi hal yang membanggakan bagi perusahaan maupun pribadi sendiri. Mutu  kinerja merupakan tolak ukur keberhasilan yang ingin dicapai.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas, maka cara meningkatkan produksi dan produktivitas sudah jelas
a.       Tekad kuat, semangat, kerja keras, disiplin dan memiliki etos kerja yang baik.
b.       Memberikan pelatihan dan menjalin hubungan sosial dalam berbagai tingkatan jabatan.
c.       Memberikan kenyamanan pada karyawan dengan tunjangan kesehatan dan asuransi serta pelatihan peningkatan kualitas diri.
d.      Menyusun system operasi perusahaan dengan sangat baik dan tertata rapi.
 Menjalankan system tersebut secara bijak.